Bekal SUDATU dari Sang Mursyid

By Admin 06 Nov 2020, 14:57:18 WIB Berita Daerah
Bekal SUDATU dari Sang Mursyid


Manunggalnya keimanan, kemanusiaam dan cinta adalah tiga rahasia kesuksesan perjuangan Indonesia. Tanpa tiga hal itu sia-sia.

Baca Lainnya :

GELEGAR suara halilintar terdengar hingga ruangan gedung pertemuan Krisna Bollroom Java Heritage Hotel Purwokerto Jawa Tengah. Malam itu, diiringi hujan  gerimis, berlangsung pembekalan pertama kalinya dari Dewan Pemrakarsa Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan.

Sekitar 350 pengurus dari tingkat pusat, provinsi dan kabupaten, kota se-Indonesia mengikuti pembekalan khusus ini. Tampak dua tokoh agama Romo Salam Rahardjo dari pemuka agama selaku Hindu dan Wisnu Sugiman dari agama Katolik selaku Dewan Pemrakarsa PCTA Indonesia mendampingi Almukarrom Syech Muchtarulloh Al Mujtaba saat pembekalan. Romo Wisnu Sugiman duduk di samping kanan dan Romo Salam Rahardjo duduk di samping kiri.

Pembekalan yang diberikan oleh Almukarrom Syech Muchtarulloh Al Mujtabaa itu  berjudul Sudatu. "SUDATU".

Sudah menjadi satu. Apa yang menjadi satu? SU: Sumber aspirasi Organisasi PCTA  Indonesia, DA: Dasar Organisasi PCTA Indonesia, TU: Tujuan Organisasi PCTA Indonesia," buka Almukarrom di awal pembekalan.

Soal aspirasi diterangkan ada tiga sumber. Pertama, aspirasi dari Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia Burung Garuda Pancasila. Aspirasi kedua semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam tiga kalimat Bhinneka Tunggal Ika. Dan aspirasi ketiga dari sabda Rosul Cinta Tanah Air Iman.

Pembekalan diiringi gemuruh halilintar. Sesekali, kilat yang menyambar tampak di sela-sela dinding kaca gedung. Kilatan halilintar bak jilatan nur hikmah yang diberikan Syech Muchtarulloh Al Mujtaba, hingga menembus dinding jiwa para pengurus. Gemuruhnya laksana getaran dari pesan-pesan penting yang membangunkan jiwa yang tidur. Turunnya hujan dari langit ibarat air berkah yang menghidupkan dari untaian-untaian kata yang menghidupkan jiwa yang sudah memiliki benih-benih cinta tanah air.

Sentuhan, getaran demi bangun dan hidupnya jiwa-jiwa pengurus organisasi Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanam dan Kemanusiaan ini menurut sang Pemrakarsa organisasi ini amat penting. Sebab jika jiwa-jiwa pengurus tidak bangun, tidak hidup, maka adanya sama dengan tiadanya. Sebab Syech Muchtarulloh menggambarkan, jiwa pengurus itu ibarat garuda yang harus terbang tinggi dengan membawa amanat Bhinneka Tunggal Ika.

"Jangankan sampai tertidur, ngantuk saja bisa berbahanya. Bhinneka Tunggal Ika yang  dicengkeram bisa lepas," ingat sang Pemrakarsa sungguh-sungguh.

Harapan Syech Muchtarulloh Al Mujtabaa pada organisasi kebangsaan yang didirikan bersama tokoh agama Hindu, Budha, Kristen juga Konghucu ini tidak hanya besar tapi juga panjang dan abadi. Ada tiga hal pokok. Pertama, demi lestarinya cinta Tanah Air Indonesia, kedua, demi lestarinya cinta terhadap Bangsa Indonesia dan ketiga demi lestarinya cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Cinta menjadi inti pokok dalam visi misi organisasi ini. Cinta yang harus ditanamkan dari generasi ke generasi selanjang zaman tidak boleh putus dan padam. Tanpa cinta, semua bisa menjadi petaka. Iman tanpa cinta akan menjadi iman yang tak berdaya, tak akan mampu menghadapi berbagai ujian. Baik ujian yang menyenangkan maupun ujian yang menyedihkan. "Kalau iman tidak kuat kena kritik sedikit saja, bisa mutung," ingat Almukarrom.

Masih terkait pentingnya cinta, menurut Sang Mursyid, persaudaraan tanpa dilandasi cinta tidak akan menjadi persaudaraan yang harmonis. Sejarah telah mencatat bagaimana perang saudara bisa terjadi karena tidak ada cinta. Perang saudara antara Hindu dan Budha yang memakan banyak korban, perang saudara antar Kristen Katholik dan Kristen Protestan, perang saudara antara Islam Sunni dan Syi'ah, perang saudara sesama suku, sesama bangsa.

Semua bisa terjadi karena melupakan dan meninggalkan cinta. Untuk itulah Sang Mursyid betul-betul berharap agar Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Yang  Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan ini bisa menjadi contoh organisasi yang bisa menumbuhkan dan mewariskan cinta secara abadi. Karena itu pulalah beliau memilih Kota Purwokerto sebagai tempat dilaksanaakannya ulang tahun. Nampaknya menyimpan harapan aman dan sejahtera yang abadi.

"Purwo itu awal. Kerto itu sejahtera," tegas Sang Mursyid.

Rangkaian HUT PCTA Indonesia Ke-8 berlangsung sukses dan meriah. Selain acara seremonial yang juga diselingi dengan pagelaran budaya, pembekalan dan Rapimnas. Ada juga acara bakti sosial, donor darah dan lain-lain.

"Hubbul Wathon Minal Iman. Yang pertama adalah cinta, kemudian tanah air dan iman," tegas Sang Mursyid.*

 

Kushartono




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment