ANUGERAH BESAR BISA BERTEMU THORIQOH SHIDDIQIYYAH

Dalam menerima nikmat dari Alloh, etika tertingginya adalah bersyukur, yakni hati senantiasa sadar akan adanya nikmat dan sumbernya nikmat, serta memanfaatkan nikmat sesuai dengan harapan si pemberi nikmat. Dan etika terburuknya adalah mengkufuri (mengingkari atau melupakan) nikmat yang telah diterimanya, tidak memanfaatkan nikmat sesuai ketentuan si pemberi nikmat, juga melupakan si pemberi nikmat. Bagi siapa yang mau bersyukur akan banyak mendapat kebaikan dari Alloh, sebaliknya bagi siapa yang kufur, adzab dari Allohpun akan menimpanya.

      Dan diantara nikmat besar yang telah kita terima dari Alloh SWT adalah dipertemukannya dengan Thoriqoh, apalagi Thoriqoh Shiddiqiyyah. Selanjutnya terserah kita, mau mensyukurinya apa tidak. Bila mau mensyukurinya pasti akan bisa merasakan MA-AN GHODAQO dalam berthoriqoh. Sebaliknya bila tidak mensyukurinya, tidaklah akan bisa merasakan manisnya buah dalam berthoriqoh.

Mengapa pertemuan dengan thoriqoh kita sebut sebagai nikmat besar dari Alloh Ta’ala? Banyak alasan yang menunjukkan pertemuan dengan suatu Thoriqoh merupakan nikmat besar dari Alloh, diantaranya :

  1. Karena hanya di Thoriqohlah yang mengajarkan bimbingan pengamalan rukun Ihsan (seakan-akan melihat Alloh, jika tidak melihatNya maka Dia melihat kita). Sedangkan di luar Thoriqoh umumnya hanya mendalami dua rukun saja, yakni rukun Iman (yang darinya muncul ilmu usuluddin atau ilmu tauhid) dan rukun Islam (yang darinya muncul ilmu fiqih). Sedangkan untuk rukun Ihsan (yang darinya muncul ilmu tasawuf dan thoriqoh) jarang disentuhnya. Padahal bila dilihat dari sejarah turunnya, 3 rukun tersebut adalah satu paket, yang artinya ketiga-tiganya tidak boleh terpisahkan dalam pengamalannya. Dengan demikian berarti sangat beruntunglah bagi pengikut Thoriqoh.
  2. Dengan berthoriqoh berarti berpotensi mendapat MA’AN GHODAQO. Hal ini diberitakan dalam surat Al jin ayat 16, yang artinya : “Dan jikalau mereka tetap istiqomah di atas Thoriqoh, benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka MA’AN GHODAQO (Air yang segar).”

Mengenai tafsir dari kalimat Thoriqoh dan MA’AN GHODAQO memang bermacam-macam. Namun dalam kitab Hasyiyatush Showi (syarah Tafsir Jalalain), Juz IV, halaman 216, ditafsirkan sebagai berikut : ”Dan seandainya hamba Alloh itu istiqomah dalam menjalankan Thoriqah dengan sepenuh hati, yakni mendawamkan (melanggengkan) wirid, dzikir, muroqobah (mendekatkan diri kepada Alloh), musyahadah (penyaksian Alloh), serta melakukan hal-hal yang terpuji dan meninggalkan hal-hal yang tercela seraya mengharap Ridho Alloh, pasti Alloh akan memenuhi hati mereka dengan ASROR WA MA’ARIF ILAHIYYAH (rahasia pengetahuan ketuhanan) serta rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

  • Dengan masuk thoriqoh berarti telah berupaya untuk “bersama orang yang telah bersama dengan Alloh”.

      Karena ada perintah dalam hadis Nabi Muhammad SAW : “Adakanlah! (jadikanlah!) dirimu beserta Alloh, jika engkau (belum bisa) menjadikan dirimu beserta Alloh, maka adakanlah (jadikanlah) beserta dengan orang-orang yang beserta Alloh, maka sesungguhnya, (orang itulah) yang menghubungkan engkau kepada Alloh (yaitu Rohaninya). (Hadis Riwayat Abu Daud).

      Dan bagi dunia tasawuf, mursyid (pimpinan suatu thoriqoh) adalah orang yang sudah dekat kepada Alloh (beserta Alloh). Maka bila kita masuk dalam suatu thoriqoh yang dipimpin oleh seorang mursyid, berarti sama dengan telah berusaha untuk bersama dengan orang yang “beserta Alloh”.

  • Dengan berthoriqoh (berguru ke seorang yang mursyid), berarti juga akan mendapat syafaat dari mursyidnya.

      Sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi : “Dari Abu Sa’id, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari umatku ada yang memberi syafaat kepada golongan besar dari manusia, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu suku, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga semuanya.” (H.R. Tarmizi).

      Bagi tradisi tasawuf, seorang mursyid diyakini juga bisa memberi syafaat bagi pengikutnya.

  • Dengan berthoriqoh (berguru ke seorang yang mursyid), berarti akan senantiasa mendapat bimbingan untuk membersihkan hati agar bisa WUSUL (sampai kepada Alloh). Karena memang itulah keahlian seorang mursyid, memberi petunjuk, membimbing dan mengantarkan simurid agar bisa sampai pada Alloh.
  • Dengan berthoriqoh akan bisa memahami ajaran Islam pada level tertinggi atau lebih dalam daripada umumnya. Misalnya dalam memahami ibadah haji, bagi pengikut Thoriqoh akan dijelaskan pula makna sebenarnya (hakikat) dari Baitulloh, ihrom, towaf, sa’i, wuquf di Arofah, lempar jumroh dan seterusnya. Lebih memahami maksud dari isro’ mi’roj (mengapa ada pengoperasian jiwa, bukankah Muhammad waktu itu sudah jadi Nabi selama 12 tahun, apa hakikat dari Masjidil Haram, masjidil Aqsho, langit tujuh dan Sidratul Muntaha?), dan seterusnya. Dan hakikat dari semua itu tidak akan disampaikan kepada orang yang bukan ahlinya, meskipun kadang sudah lama ikut thoriqoh.
  • Dan masih banyak lagi. (alkautsar 155 bersambung…)

Tinggalkan Balasan