NIKMATNYA MENJADI MURID THORIQOH SHIDDIQIYYAH

    Diantara nikmat besar lainnya yang telah kita terima dari Alloh SWT adalah menjadi murid Thoriqoh Shiddiqiyyah. Diantara alasannya :

Karena bimbingan dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah tidak sebatas ibadah spiritual saja, melainkan juga ibadah sosial.

Untuk bimbingan spiritualnyapun tidak hanya dzikir Nafi Isbat (LA ILAHA ILLALLOH) saja, namun juga dzikir Ismu Dzat (ALLOH). Sedangkan Thoriqoh lain inti ajarannya ada yang Nafi Isbat (LA ILAHA ILLALLOH) saja, juga ada yang Ismu Dzat (ALLOH) saja (tidak kedua-duanya).

Belum lagi bimbingan spiritual lainnya, di Thoriqoh Shiddiqiyyah sangatlah banyak, misalnya seperti tabib ruhani 7 hari, tabib ruhani 40 hari, fatehah, ayat Nur, Mi’roj, Qulhu dan lain sebagainya.

Untuk ibadah sosialnya, di Thoriqoh Shiddiqiyyah juga luar biasa, sangat diserukan untuk peduli pada sekitar, bangsa dan Negara. Kepedulian kepada sekitar ini ada yang dirupakan dalam bentuk bantuan langsung berupa uang dan sembako, tentunya kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu. Dan ini jumlahnya sudah tak terhitung lagi, karena dikeluarkan oleh warga Shiddiqiyyah disetiap punya acara (kegiatan), baik secara individu maupun kelompok, baik acara kecil maupun besar (bersifat Nasional). 

Juga ada bantuan dalam bentuk rumah tempat tinggal yang disebut dengan istilah RLHS (Rumah layak huni Shiddiqiyyah) dan RPS (Rumah pintar Shiddiqiyyah), yang sejak tahun 2002 sampai 2018 sudah mencapai sekitar 1.300 buah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Belum lagi bantuan berupa pendidikan, pengobatan, pemecahan masalah dan masih banyak lagi. Hingga Shiddiqiyyah banyak punya gedung-gedung, baik untuk pendidikan seperti gedung BTQ, THGB, pesantren-pesantren. Gedung untuk bimbingan khusus, seperti gedung Isti’anah, gedung Hikmatus Sholah, Jami’atul Mudzakkirin, gubuk-gubuk. Gedung untuk pengobatan, seperti klinik Asy Syifa’, rumah sehat ST dan masih banyak lagi. Juga banyak membangun masjid Baitus Shiddiqin, Baitul maghfiroh, Musholla-musholla dan perkantoran-perkantoran yang tersebar di seluruh Indonesia.

Murid Shiddiqiyyah juga dibimbing untuk bisa menjadi pelayan Keimanan, pelayan kemanusiaan dan pelayan kealaman.

Gurunya juga benar-benar seorang Mursyid. Hal ini bisa kita lihat dari tanda-tandanya sebagaimana keterangan dalam kitab Khozinatul Asror, hal. 194, diantaranya : 

Seorang yang alim (termasuk masalah ilmu ruhani), karena yang bodoh tidak akan mampu memberi Irsyad (Petunjuk). 

Tidak mencintai dunia dan pangkat.

Ahli dalam mendidik Nafsunya (Riyadlotun-Nafsi), seperti sedikit makan, minum dan bicara, sebaliknya banyak sholat, shodaqah dan puasa. 

Mempunyai sifat dan akhlaq terpuji, seperti : Sabar, syukur, tawakkal, yakin, pemurah, qona’ah, pengasih, tawadlu’, shiddiq, wafa (taat, terpercaya), wiqor (ketenangan hati) dan syukur. 

Juga dalam kitab Tanwirul Qulub karangan Syeikh Muhammad Amin Kurdi. Disini disebutkan bahwa syarat seorang Guru Mursyid ada 24, diantaranya : 

Harus seorang yang alim dalam segala keilmuan yang dibutuhkan oleh para murid. 

Harus seorang yang arif terhadap kesempurnaan qolbu (hati) dan adab-adabnya, serta mengetahui segala bencana dan penyakit nafsu serta cara menyembuhkannya. 

Seorang yang lemah lembut, pemurah kepada kaum muslimin, khususnya kepada para muridnya. Apabila melihat para muridnya belum mampu untuk melawan nafsunya dan kebiasaannya yang jelak misalnya, beliau lapang dada terhadap mereka setelah menasehatinya dan bersikap lemah lembut kepadanya sampai mereka mendapat petunjuk. 

Selalu menutupi segala yang timbul dari aib yang menimpa para muridnya. 

Bersih dari harta para muridnya serta tidak tamak terhadap apa-apa yang ada ditangan para muridnya.

Selalu taat terhadap perintah dan larangan dari Alloh, sehingga segala perkataannya berbekas pada diri para muridnya. 

Tidak banyak bergaul dengan para muridnya kecuali sekedar perlu dan selalu mengingatkan muridnya dalam hal berthoriqoh dan syariah sebagai upaya pembersihan jiwa, dan agar bisa beribadah kepada Alloh dengan benar. 

Perkataannya bersih dari berbagai kotoran hawa nafsu, senda gurau, dan dari segala yang tidak bermanfaat. 

Lemah lembut dan seimbang dalam hak dirinya, sehingga kebesaran dan kehebatannya tidak mempengaruhi dirinya. 

Selalu memberi petunjuk kepada para muridnya dalam hal-hal yang dapat memperbaiki keadaannya. Dan masih banyak lagi.

3.    Semua yang diajarkannya sesuai dengan Alquran dan hadis. Hal ini bisa dilihat dari semua Kitab karya beliau, pengajian-pengajian atau Mauidhoh Hasanah atau pitutur luhur beliau, pendapat-pendapat dan petunjuk-petunjuk beliau. 

4,    Sangat peduli terhadap NKRI. Saking besarnya perhatian terhadap tanah air Indonesia, sampai:

Cinta tanah air dijadikan salah satu kesanggupan yang harus dipenuhi sebagai syarat masuk thoriqoh Shiddiqiyyah.

Diwajibkannya pelajaran cinta tanah air untuk THGB dan Maqoshidul Quran, juga seluruh pendidikan di Shiddiqiyyah.

Banyak kitab karya beliau yang memotivasi agar cinta tanah air, juga menyoroti Indonesia.

Banyak terdapat monument “kebesaran Indonesia” di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah.

Monumen bertuliskan HUBBUL WATHON MINAL IMAN tersebar di berbagai bangunan Shiddiqiyyah.

Mendirikan Pesantren “Jati diri bangsa” yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di setiap pertemuan besar diwajibkan melakukan sumpah jati diri bangsa.

Mengeluarkan istilah sebagai pengingat bahwa kita itu orang Indonesia, meskipun berbeda agama. Yaitu dengan mendahulukan identitas kebangsaannya, baru agamanya. Misalnya: “Saya orang Indonesia yang beragama Islam”, bukan “Saya orang Islam yang ada di Indonesia”. Atau “Saya orang Indonesia yang beragama Kristen”, bukan “Saya orang Kristen yang ada di Indonesia”.

Mendirikan organisasi PCTAI (Persaudaraan cinta tanah air Indonesia).

Berusaha merajut Nusantara.  

~    Dengan PCTAI, merajut kerukunan antar umat beragama, antar suku, budaya se Nusantara.

~    Dengan S3 (Shilatur rohmi, Santun, Shodaqoh), merajut kerukunan antar saudara, kelompok, suku, masyarakat, si kaya dan si miskin, rakyat dengan pejabat, dan seterusnya se Nusantara.

~    Dengan pendirian Pesantren Jati diri bangsa, merajut seluruh masyarakat lintas suku, ras, agama, dan seterusnya.

Semuanya hanya bisa kita temui di Shiddiqiyyah.* (bersambung…)

Tinggalkan Balasan