Memahami Informasi Dasar Thoriqoh Shiddiqiyyah, agar Kita Menjadi Murid yang Bersyukur

Bersyukur adalah perintah Alloh dengan bersyukur Alloh akan menambahkan nikmat-nikmatnya. Sebaliknya jika kufur Alloh akan menimpakan azab.

Agar bisa menjadi murid Thoriqoh Shiddiqiyyah yang bersyukur, maka diantara syarat utamanya adalah mengerti tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah. Sebagaimana penjelasan Imam Ghozali dalam Kitabnya Ihya’ Ulumiddin, jilid 4, bab Bayanu Hadis Syukri Wa Haqiqotihi, hal 79. Menurut beliau : SYUKUR adalah ibadah yang tersusun dari 3 unsur, yaitu ILMU, HAL dan AMAL. ILMU menduduki posisi dasar, yang mana dari ILMU tersebut akan timbul HAL, selanjutnya dari HAL timbullah AMAL.

Dan yang di maksud dengan ILMU (yang menjadi unsur syukur yang pertama) adalah mengetahui sumbernya ni’mat, mengetahui wujudnya ni’mat dan mengetahui untuk apa ni’mat tersebut di anugerahkan kepada kita. Karenanya pada kesempatan kali ini juga menginformasikan sekilas tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Apakah Thoriqoh Shiddiqiyyah itu ?

Secara etimologi, Thoriqoh artinya jalan, Shiddiqiyyah (terambil dari kata Shiddiq) artinya benar. 

Secara terminology, Thoriqoh adalah jalan “untuk mendekatkan diri pada Alloh” melalui bimbingan guru yang mursyid. Shiddiqiyyah adalah nama silsilah yang disandarkan kepada Abu Bakar yang bergelar As Shiddiq. Dari gelar As Shiddiq inilah kemudian muncul nama Shiddiqiyyah. (Kitab Barzanji Natsar, Ath-thir ke 12).

Sejak kapan adanya Thoriqoh Shiddiqiyyah ?

Terhitung sejak jaman shohabat Abu Bakar As Shiddiq RA. Sebagaimana keterangan dalam kitab Tanwirul Qulub FASAL ADABUL MURID MA’A IKHWANIHI, hal 579: “Maka wasilah dari hadrotis Shiddiqi Rodliyallohu ‘Anhu (Abu Bakar As Shiddiq) sampai kepada Asy Syaikh Thoifur bin Isa Abi Yazid Albusthomi Rohimahullohu dinamakan SHIDDIQIYYAH”.

Bagaimana sejarah nama Thoriqoh Shiddiqiyyah dari jaman Abu Bakar As Shiddiq RA sampai kepada Syeikh Muchtarulloh Al Mujataba ?

~    Dari jaman Abu Bakar As Shiddiq sampai syeikh Thoifur bin Isa Abi Yazid Albusthomi (wafat tahun 875 M) masih terkenal dengan nama Thoriqoh Shiddiqiyyah. (Tanwirul Qulub FASAL ADABUL MURID MA’A IKHWANIHI, hal 579)

~    Sekitar pertengahan tahun 874 M, Thoriqoh Shiddiqiyyah mengalami kejayaan di dua negara.

    1)    Di negara Persi, di kampung Al Busthomi.

    2)    Di negara Irak, di kampung Al Irbil.

    Pesatnya dipimpin oleh Al Mursyid Kabir Asy Syaikh Thoifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi, sehingga nama beliau harum terkenal diseluruh dunia muslim, khususnya dalam dunia Tasawuf.

~    Setelah wafatnya Al Mursyid Kabir Asy Syaikh Muhammad Thoifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi (tahun 875 M), nama Thoriqoh Shiddiqiyyah tenggelam sampai 1097 tahun (nama Shiddiqiyyah berganti menjadi nama-nama yang lain). (Mengenai perubahan nama Shiddiqiyyah ini bisa dilihat dalam kitab Tanwirul Qulub FASAL ADABUL MURID MA’A IKHWANIHI, hal 500-502)

~    Baru kemudian pada tahun 1972 (tepatnya pada tanggal 4 April 1972), nama Shiddiqiyyah di hidupkan lagi oleh Syeikh Muchtarulloh Al Mujtaba di Losari Ploso Jombang. (Orshid, Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah).

Di mana pusat Thoriqoh Shiddiqiyyah sekarang ini ?

Menurut buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ihtiar Van Hopen, cetakan ke II tahun 1994, jilid V, hal 67 dan kitab kamus Tasawuf karya Dr. Muhammad Sholihin dan Drs. Rosihon Anwar terbitan PT Rosdakarya Bandung tahun 2009, hal 188 : Pusat Thoriqoh Shiddiqiyyah sekarang ini adalah di Indonesia, tepatnya di Jombang Jawa Timur. Sekarang dikenal dengan Kota Losplos Jomja Iraja

Sudah berapa tahun usia Thoriqoh Shiddiqiyyah ?

Bila dihitung sejak shohabat Abu Bakar As Shiddiq RA sampai sekarang, berarti sudah sekitar 1390-an tahun, karena Abu Bakar Shiddiq hidup dari tahun 572-634 M.

Bila dihitung sejak dihidupkannya kembali nama Shiddiqiyyah oleh Syeikh Muchtarulloh Al Mujtaba pada tanggal 4 April 1972, berarti usia Thoriqoh Shiddiqiyyah hingga sekarang tahun 2019, sekitar 47 tahun.

Bila dihitung sejak Syeikh Muchtarulloh Al Mujtaba awal memperkenalkannya kembali Shiddiqiyyah pada tahun 1960 (namun waktu itu masih memakai nama “Ilmu haq layar tujuh pati”), berarti usia Shiddiqiyyah sudah sekitar 59 tahun.

Bagaimana perkembangan Thoriqoh Shiddiqiyyah di Indonesia ?

Awalnya banyak yang menolak, namun atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa, Shiddiqiyyah bisa hidup dan berkembang dengan bijaksana hingga sekarang. Dan mengenai kebesaran Shiddiqiyyah saat ini bisa dilihat dari :

~    Banyaknya jumlah murid (warganya) yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri.

~    Banyaknya organisasi yang muncul dari Shiddiqiyyah. Baik organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, da’wah, keilmuan bahkan lintas agama. Yang mana tiap organisasi tersebut sudah mempunyai cabang (di tingkat propinsi), anak cabang (di tingkat kabupaten) dan ranting (di tingkat kecamatan), di seluruh pelosok tanah air Indonesia, taruhlah seperti JAM’IYYAH KAUTSARAN PUTRI, ORSHID, OPSHID, YPS, PCTAI, DHIBRA dan masih banyak lagi.

~    Banyaknya bangunan Shiddiqiyyah yang tersebar di seluruh Indonesia. Baik yang sifatnya khusus untuk bimbingan dzikir, seperti Jamiatul Mudzakkirin, untuk sarana ibadah seperti masjid Baitus Shiddiqin, musholla baitul Ghufron dan Baitul Maghfiroh, gedung kautsaran. Gedung untuk sarana sosial, seperti gedung Dzibra, untuk pendidikan seperti THGB, BTQ, untuk pengobatan seperti rumah ST, Assyifa’ dan masih banyak lagi. Dan semuanya itu tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Belum lagi RLHS (Rumah layak huni Shiddiqiyyah) yaitu persembahan berapa bangunan rumah dari Shiddiqiyyah kepada kaum fakir yang jumlahnya juga sampai ribuan.

~    Banyaknya kegiatan yang sifatnya nasional (di ikuti oleh anggota dari berbagai daerah seluruh Indonesia), seperti musyawaroh nasional organisasi-organisasi di Shiddiqiyyah, tasyakuran tahun baru hijrah yang tiap tahunnya berpindah-pindah dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain, santunan nasional dan seterusnya.

~    Banyaknya kunjungan penjabat, baik dari pusat maupun daerah, seperti kunjungan presiden Jokowi, menko Maritim dan lain sebagainya. (Semua datanya bisa dilihat pada majalah Alkautsar)

~    Dan di dalam buku “Satu Tuhan Seribu Jalan” (Sejarah, ajaran dan gerakan Tarekat di Indonesia) karya Abdul Wadud Kasyfu Humam, S.Th.I, cetakan 2017, hal 42 dikatakan : “Di Indonesia, tarekat-tarekat yang mendapatkan simpati dari masyarakat dan mendapat pengikut banyak diantaranya adalah tarekat Shiddiqiyyah”. Dengan demikian berarti perkembangan dan kebesaran Shiddiqiyyah semakin diakui oleh umum.*

Tinggalkan Balasan