Kunker S3 Dhibra Pusat Tulungagung dan Trenggalek

Kunker S3 Dhibra Pusat Tulungagung dan Trenggalek

PEMBANGUNAN Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah bagi kaum dhuafa sebenarnya sudah dimulai sejak 1970-an. Namun, sifatnya masih rehabilitasi. Hanya perbaikan. Nah, pembangunan rumah secara total baru terlaksana sejak era 90-an. Rumah dibongkar, dan dibangun mulai dari awal. Namun, pelaksanaannya belum terorganisir seperti sekarang.
Pada tahun 2001 berdirilah organisasi dengan nama Dhilaal Mustad’afiin dan panitia kecil bernama Yayasan Berkat Rohmat Alloh. Pada tahun itu, warga Shiddiqiyyah membangun 10 unit rumah sederhana.
Bencana banjir Situbondo pada 2002 kian menggugah kepedulian warga Shiddiqiyyah. Sebanyak 20 unit rumah dibangun untuk korban bencana di Situbondo. Saat itu, muncul nama Rumah Layak Huni (RLH).
Kegiatan ini berlanjut pada tsunami Aceh serta gempa Yogyakarta. 11 unit RLHS dibangun di Aceh pada 2005. Setahun berselang, 95 RLH dibangun di Yogyakarta yang terbagi dalam dua tahap.
Dalam perkembangan selanjutnya organisasi Dhilaal Mustad’afiin kemudian diubah namanya oleh Sang Mursyid menjadi Organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (Dhibra) Shiddiqiyyah, pada 11 Syawwal 1426 H/13 November 2005 M.
Jika sebelumnya pembangunan RLH banyak dipersembahkan pada korban bencana, sejak 2003, RLHS ditujukan sebagai wujud syukur atas nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI. Pada saat itu belum ada standar bangunan. Pemberlakuan standar bangunan sebagai persyaratan pokok untuk pembangunan rumah layak huni diberlakukan sejak 2008.
Pada tahun 2010, momentum pembangunan rumah layak huni tak sekadar mensyukuri Kemerdekaan Bangsa dan Berdirinya NKRI, namun juga dalam rangka Sumpah Pemuda. Pada tahun ini pula istilah Rumah Layak Huni oleh sang Mursyid ditambahkan nama Shiddiqiyyah, jadilah Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS) muncul. Pada tahun ini juga, beberapa penerima RLHS dari kalangan non muslim. Sebelumnya, semuanya muslim. Kualitas RLHS yang dibangun oleh warga Shiddiqiyyah juga mengalami peningkatan. Dulunya, berdinding setengah papan dan setengah bata. Kini semuanya berupa bata.
Warga Shiddiqiyyah juga mempersembahkan rumah beserta perabotan rumah. Hal ini dilakukan sejak adanya RLHS. Bahkan, beberapa daerah juga mempersembahkan rumah beserta usaha dan modal usaha.
Tahun 2018, kunjungan Dhibra Pusat kian diintensifkan. Semua daerah yang memiliki program RLHS dikunjungi oleh pengurus Dhibra Pusat. Pelaksana RLHS juga diberi dana motivasi. Sifatnya stimulus supaya menambah semangat relawan. Sebenarnya, program kunjungan itu sudah dilakukan sejak tahun 2002, pada program di Situbondo. Namun, belum bisa menyeluruh, tahun 2018, 2019 semakin tertata rapi dan menyeluruh.*

English EN Indonesian ID
Scroll to Top