Manfaatkan Mimpi Bagian Dari Wahyu Nabi

By Admin 20 Mei 2016, 21:15:40 WIB Berita Pusat

Hampir setiap hari manusia itu mengambil waktu untuk tidur. Dan di dalam tidurnya itu pastilah manusia pernah bermimpi. Bahkan bila dijumlah waktu tidur manusia yang rata-rata lima hinga delapan jam sehari, jika ditotal mimpi manusia itu menghabiskan sepertiga dari usianya. Maka bila usia manusia 60 tahun berarti tidurnya bisa sampai 20 tahun, sebuah waktu yang panjang.

Dalam waktu yang cukup lama tersebut tidaklah elok jika kita biarkan berlalu begitu saja, sebab kurangnya ilmu untuk bisa mengambil hikmahnya. Tak heran, ada sebagian orang menganggap mimpi hanyalah sekedar bunga tidur. Padahal mimpi itu adalah bagian dari ayat-ayat Alloh. Mimpi adalah ayat yang banyak menyimpan potensi luar biasa bagi orang mukmin. Selain sebagai media dalam menerima petunjuk dari Alloh, juga bisa untuk belajar mendekat pada Alloh, mendidik nafsu.

Kesempatan kali ini kita akan sedikit membongkar rahasia dan potensi mimpi. Terlebih sebagai umat Islam, kita perlu memahami perihal mimpi menurut apa yang diterangkan dalam Alquran dan hadits Nabi. Dan beruntunglah bagi orang yang mengetahui rahasia dan bisa memanfaatkannya. Mimpi yang baik itu satu bagian dari empat puluh enam bagian dari wahyu kenabian. *

Baca Lainnya :

TIGA MACAM MIMPI

Sebagai umat Islam, kita perlu sedikit memahami perihal mimpi menurut apa yang diterangkan dalam Alquran dan hadits Nabi.

Mimpi memang menjadi ulasan yang menarik, karena biasanya mimpi bisa menceritakan tentang kehidupan kita, menceritakan tentang orang lain, bisa jadi itu menyenangkan ataupun tidak, atau bahkan menampilkan suatu pemandangan dan perasaan yang tidak pernah kita jumpai sama sekali di alam dunia ini. Mimpi bisa membuat kita meretas senyum, atau sebaliknya justru membuat wajah berkeringat ketakutan, dan tanpa kita sadari mimpi lah yang membangunkan lelap tidur kita di kehampaan malam.

MUNCULNYA MIMPI

Adakalanya mimpi merupakan akibat yang muncul dari dalam perasaan manusia itu sendiri, misalnya rasa khawatir atau harapan-harapan dan keinginan-keinginan dalam hati. Dorongan itu kemudian mengendap pada alam bawah sadar dan muncul secara “tidak sengaja” dalam bentuk mimpi.

Adakalanya mimpi juga muncul dari sebab eksternal yang berasal dari kejadian yang ada di lingkungannya yang terekam dalam fikirannya. Adakalanya munculnya mimpi karena rangsangan organ badan maupun kondisi fisik, misalnya pada saat jasmani mengalami kelelahan atau kondisi lainnya. Adakalanya pula mimpi itu muncul dari bisikan atau permainan syaithon.

Dan adakalanya munculnya mimpi adalah suatu berita dari Tuhan tentang sebuah penjelasan akan terjadinya suatu hal di masa mendatang atau suatu berita dari Tuhan tentang buah/hasil dari apa yang telah dilakukannya pada masa lampau. Atau bahkan mimpi adalah perlambang dari suatu infromasi yang jauh dari tangkapan logika manusia, misalnya tentang pengalaman perjalanan ruhaniyah atau sketsa pemandangan alam akhirat yang sulit dicerna dan sulit untuk dipahami, karena apa yang dimimpikannya itu belum pernah dilihat, belum pernah didengar dan belum pernah dirasakannya di dunia. Karena pengalaman-pengalaman ghoib dalam mimpi memang tak mampu diendus oleh indera dan jauh dari bayangan logika.

Dari beberapa sebab munculnya mimpi di atas maka dapat diringkas menjadi tiga saja, sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi. Bersabda Rosulullah SAW: “Mimpi itu ada tiga, mimpi yang baik adalah kabar gembira dari Allah, mimpi yang menyedihkan dari Syaithon, dan mimpi yang terjadi akibat angan-angan diri sendiri. (HR :Muslim dari Abi Hurairoh ; Maktabah ; 2263).

Dilihat dari sebab munculnya mimpi maka dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis ru’yah/mimpi: (1) Mimpi baik kabar gembira dari Allah. (2) Mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaithon dan (3 ) Mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya.

RU’YAH SHODIQOH DAN RU’YAH KADZIBAH

Dari tiga mimpi di atas jika dilihat dari segi nilai atau derajat mimpi maka dapat diringkas lagi dua macam mimpi :

1).Ru’yah Shodiqoh artinya: Mimpi yang benar atau mimpi shodiq.

2).Ru’yah Kadzibah artinya: Mimpi yang dusta atau mimpi kadzib.

Ru’yah Shodiqoh atau mimpi yang benar ialah: Di waktu ruhani hening, karena panca indera sudah tidak menerima gelombang sinar dari alam dunia atau alam syahadah, maka di waktu tertidur itu ruhani dapat menangkap pantulan Nur dari alam ghoib atau Lauhil Mahfudh, kemudian pantulan Nur dari alam ghoib itu membentuk lintasan-lintasan berupa lambang-lambang yang tampak dalam mimpi. Lambang-lambang yang muncul dalam mimpi shodiq ini bisa berupa suatu berita dari Allah tentang sebuah penjelasan akan terjadinya hal- hal di masa mendatang, atau suatu berita dari Allah tentang buah/hasil dari apa yang telah dilakukannya pada masa lampau, atau kabar gembira dari Allah, atau peringatan dan teguran dari Allah, atau tentang pengalaman perjalanan ruhaniyah, atau tentang sketsa pemandangan alam akhirat. Inilah yang disebut dengan ru’yah shodiqoh/ mimpi yang benar/ mimpi shodiq.

Rosulullah SAW bersabda, yang artinya : “Tidaklah tinggal dari tanda-tanda kenabian kecuali berita-berita gembira”, kemudian para shohabat bertanya: ”Apa itu berita-berita gembira?”, Rosulullah saw bersabda: “Mimpi yang benar”. (HR : Bukhori).

At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa seorang penduduk Mesir bertanya kepada Abu Darda’ RA mengenai firman Allah ini: “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di dalam kehidupan di akhirat” (Surat Yunus/ ayat 64). Abu Darda’ menjawab: “Tidak ada seorangpun bertanya tentang ayat ini semenjak aku bertanya kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab: ‘Tidak seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat ini selain engkau semenjak ayat ini diturunkan. Ayat ini menjelaskan mimpi baik yang dialami seorang muslim,”. (HR : At-Tirmidzi)

Sedangkan ru’yah kadzibah atau mimpi yang dusta ialah: Di waktu tidak siap secara ruhani, maka gelombang jasmaniyah dan gelombang fikiran yang masih kuat ini akan menjadi pembatas atau tabir untuk menangkap pantulan Nur dari alam ghoib. Di saat tertidur itu gelombang jasmaniyah dan gelombang fikiran yang masih kuat ini mengendap di alam bawah sadar sehingga membentuk gambaran dalam sebuah mimpi, atau bahkan syaithon bisa masuk mempermainkan manusia didalam mimpinya. Gambaran-gambaran yang muncul dalam mimpi kadzib ini bisa berupa kejadian-kejadian yang ia alami di alam materi/ alam dunia atau angan-angan yang ia fikirkan atau bahkan lintasan dari syaithon. Inilah yang disebut dengan ru’yah kadzibah atau mimpi yang dusta atau mimpi kadzib.

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rosulullah SAW: “Sesungguhnya saya telah bermimpi (melihat) kepalaku telah terputus (dari badanku) lalu saya mengikutinya dari belakang”, Maka Nabi SAW mencelanya dan bersabda: “Janganlah kamu ceritakan (kepada orang lain) permainan syaithon terhadapmu di dalam mimpi(mu)”. (HR : Muslim).

Al-Allamah ‘Abdurrahman bin NAshir As-Sa’di rohimahulloh mengatakan: “Mimpi-mimpi kosong dan tidak bisa dita’wil, seperti orang yang bermimpi dalam keadaan dia sibuk berfikir dan berangan-angan terhadap suatu persoalan. Maka kebanyakan yang dilihatnya dalam tidurnya adalah sejenis dengan apa yang dipikirkannya ketika dia dalam keadaan jaga. Jenis ini biasanya mimpi kosong yang tidak ada ta’wilnya.

Demikian juga bentuk lain yang dilemparkan syaithon kepada ruh orang yang tidur, berupa mimpi dusta dan makna-makna yang kacau. Ini juga mimpi yang tidak ada ta’wilnya. Dan tidak perlu menyibukkan pikirannya dengan hal ini. Bahkan sebaliknya dia membiarkannya begitu saja. Adapun mimpi yang benar, maka itu adalah ilham yang diberikan Allah kepada ruh ketika dia lepas dari jasad pada waktu tidur. Atau tamsil yang dibuat oleh Malaikat bagi seorang manusia agar dia memahami apa yang sesuai dengan tamsil itu. Yakni, kadang dia melihat sesuatu sesuai hakekatnya, dan ta’birnya adalah apa yang dilihatnya dalam tidurnya.*

  (SISIPAN)  PETUNJUK ALLOH MELALUI MIMPI.

1.       Nabi Ibrahim.

      Nabiyulloh Ibrahim AS pernah melakukan penyembelihan (pengorbanan) terhadap putranya (Ismail). Dan karena sangat besarnya pelajaran dari kisah pengorbanan tersebut, akhirnya umat Islam juga diperintahkan untuk melakukan pengorbanan setiap Idul Adha sampai akhir jaman. Dan itu tidak lain berawal dari mimpinya Nabi Ibrahim yang merupakan petunjuk dari Alloh untuk menyembelih Ismail. Alquran Surat As Shofat, ayat 102-105.

1.       Nabi Yusuf

      Petunjuk Alloh kepada Yusuf akan tanda-tanda kenabiannya juga disampaikan melalui mimpi. Sebagaimana diinformasikan dalam Alquran Surat Yusuf ayat 4. “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf : 4).

1.       Nabi Muhammad SAW.

      Dalam kisahnya Muhammad SAW pun, sebelum terjadi perdamaian Hudaibiyah, beliau bermimpi memasuki kota Mekkah dan Masjidil Haram bersama para sohabatnya dalam keadaan sebahagia mereka bercukur rambut. Dan Nabi mengatakan bahwa mimpinya itu pasti akan menjadi kenyataan.

1.       Manusia biasa

Mimpi juga menjadi media penyampai berita atau peringatan dari Alloh untuk manusia biasa. Seperti kisahnya Nabi Yusuf ketika dalam penjara didatangi ada dua orang pemuda yang menceritakan mimpinya. Yang satu mimpi memeras anggur, dan satunya lagi mimpi membawa roti di atas kepalanya, namun sebagiannya di makan burung. Hal ini diceritakan dalam Surat Yusuf, ayat 36 dan 41.

BELAJAR MENYIKAPI MIMPI

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia (Al-Isro’ : 60)

        Bila mimpi disebut sebagai ujian, berarti ada rahasia besar di dalamnya yang menuntut manusia untuk bisa membongkarnya. Bagi yang bisa menemukan rahasia besarnya dan benar dalam menyikapinya, akan mendapat banyak keberuntungan. Sebaliknya bila tidak bisa menemukan rahasianya, yang tentunya mengakibatkan kesalahan dalam menyikapinya, akan banyak mendapat kerugian.

        Berikut ini caranya menyikapi mimpi yang kita alami berdasarkan tuntunan dari Rosulullah. Sebagaimana tersebut dalam beberapa hadits berikut ini:

 1). Mimpi Baik

Sehubungan dengan cara menyikapi mimpi, Imam Bukhori menyusun kitab berjudul Kitaabu Ta’bir, pada salah satu bab dalam kitab tersebut yakni “Babur ru’ya minalloh”, ada tuntunan dari Rosulullah jika mengalami mimpi yang baik, beliau memuat hadits sebagai berikut : Rosulullah SAW bersabda: “Mimpi yang baik berasal dari Allah dan mimpi yang buruk berasal dari syaithon. Barang siapa melihat mimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri dan meminta perlindungan kepada Allah dari Syaithon. Niscaya dengannya mimpi buruk itu tidak akan memudlorotkannya/membahayakannya. Janganlah ia menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Jika ia melihat mimpi yang baik, hendaklah ia bergembira, dan janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang menyukai dirinya”. (Keterangan dari Shohabat Abu Qotadah RA, diriwayatkan oleh Muslim, dalam kitab Shohih Muslim, Hadits nomer 2261).

Dari Abi Sa’id Alkhudlri , sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda : “Apabila seseorang diantara kamu bermimpi yang menggembirakan, hal itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah atas mimpi itu (mengucap Alhamdulillah), tetapi jika ia bermimpi selain itu yakni yang tidak menyenangkannya, hendaklah berlindung kepada Allah (mengucap A’udzu billah) dari kejelekannya, dan hendalah tidak menceritakannya kepada siapapun, karena hal itu tidak memudlorotkannya/membahayakannya”. (HR : Bukhori).

Pada Hadits yang lain, Rosulullah SAW bersabda: “Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada seorang ulama’ atau orang yang bisa memberi nasehat” (Keterangan dari Shohabat Abu Huroiroh RA, diriwayatkan oleh Ad-Darimi jilid 2 hal 126, dan At-Tirmidzi Hadits ke 2280).

Berdasarkan tuntunan dari Rosulullah dalam hadits di atas maka cara menyikapi mimpi yang baik ialah:

1). Merasa gembira dalam hati, kegembiraan yang disandarkan kepada Allah.

2). Bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah, dan lebih afdlol jika diiringi dengan sholat syukur.

3). Tidak menceritakan mimpi tersebut kepada sembarang orang kecuali kepada seorang ulama’ atau orang yang bisa memberi nasehat.

2). Mimpi Buruk

Sedangkan jika mengalami mimpi yang buruk, ada beberapa tuntunan dari Rosulullah sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi berikut:

Dari Abu Qotadah, dari Nabi SAW bersabda: “Mimpi yang baik itu dari Allah dan mimpi yang buruk itu dari Syaithon, apabila seseorang diantara kamu mimpi buruk, maka hendaklah berlindung kepada Allah darinya, dan hendaklah meludah ke sebelah kirinya sehingga hal itu tidak akan membahayakan”. (HR : Bukhori).

Rasulullah SAW bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah. Sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa mimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari syaithon, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya” (HR : Bukhori dan Muslim).

Rasulullah SAW bersabda, “Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari syaithon, dan mimpi yang datang dari angan-angan seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan maka hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya pada orang lain” (HR : Bukhori dan Muslim).

Rosulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mimpi yang tidak ia suka, hendaklah ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah semoga ada kebaikan dalam mimpi itu, dan berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut”. (Keterangan dari Shohabat Abu Huroiroh, diriwayatkan oleh Ibnu Majjah, Hadits no.3910).

Telah bersabda Rosulullah SAW: “Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak ia sukai, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, meminta perlindungan kepada Allah dari godaan Syaithon tiga kali, dan mengubah posisi tidurnya dari posisi semula”. (Keterangan dari Shohabat Jabir RA, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam kitab Shohih Muslim, Hadits nomer 2262).

Dalam Hadits Shahih disebutkan bahwa ada seorang lelaki sowan kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Ya Rasulallah, aku bermimpi seolah kepalaku terputus dan aku mengikutinya”. Rasulullah menjawab: “Jangan kau bicarakan apa yang menjadi permainan syaithon terhadapmu dalam tidur”.

Rosulullah SAW bersabda: “Mimpi yang baik berasal dari Allah dan mimpi yang buruk berasal dari syaithon. Barang siapa melihat mimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri dan meminta perlindungan kepada Allah dari Syaithon. Niscaya dengannya mimpi buruk itu tidak akan memudlorotkannya/membahayakannya. Janganlah ia menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Jika ia melihat mimpi yang baik, hendaklah ia bergembira, dan janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang menyukai dirinya”. (Keterangan dari Shohabat Abu Qotadah RA, diriwayatkan oleh Muslim, dalam kitab Shohih Muslim, Hadits nomer 2261).

Maka berdasarkan beberapa Hadits di atas, jika kita mengalami mimpi buruk maka cara menyikapinya ialah sebagai berikut:

1). Meludah tiga kali ke arah kiri dengan maksud membuang keburukan dari mimpi tersebut.

2). Memohon perlindungan kepada Allah dari Syaithon.

3). Memohon kepada Allah semoga ada kebaikan dalam mimpi itu.

4). Berwudlu dan melaksanakan sholat.

5). Mengubah posisi tidur jika akan melanjutkan tidurnya kembali.

6). Tidak menceritakannya kepada orang lain.

Terhadap mimpi baik maupun mimpi buruk, mengapakah kita tidak boleh menceritakan mimpi tersebut kepada sembarang orang?

Karena Rosulullah SAW bersabda: “Mimpi itu berada di kaki burung selama tidak ditakwilkan. Maka jika ditakwilkan, niscaya ia akan jatuh (terjadi).” Beliau bersabda: “Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada orang yang menyukai dan bijaksana.” (Keterangan dari Abu Razin, diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam kitab Sunan Abi Dawud Hadits nomer 5020, dan diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dalam kitab Sunan Ibnu Majjah Hadits nomer 3914).

Itulah sebabnya kita dilarang menceritakan mimpi kepada sembarang orang karena jika salah mentakwilkannya maka itu akan terjadi. Satu hal lagi yang harus kita perhatikan, yakni jangan sekali-kali bercerita telah bermimpi tentang sesuatu  padahal sebenarnya tidak pernah memimpikannya, mengapa itu dilarang?

Karena Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa menceritakan mimpi yang tidak ia lihat, niscaya ia akan dibebani untuk mengikat biji gandum dan ia tidak akan mampu melakukannya”. (Keterangan dari Shohabat Ibnu Abbas RA, diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dalam kitab Shohih Bukhori, Hadits nomer 7042). Oleh sebab itu hendaknya kita berhati-hati dalam menyikapi persoalan mimpi.*

 (SISIPAN)  MACAM MACAM MIMPI

1.       Mimpi yang akan menjadi kenyataan. Seperti mimpinya para Nabi, misalnya mimpinya Nabi Yusuf melihat matahari, bulan dan 11 bintang sujud kepadanya. Mimpinya Nabi Muhammad SAW ketika akan menguasai Mekah lagi, dan seterusnya. Dan ini biasanya disebut pula dengan istilah wahyu. Namun kalau ru’yah shodiqoh ini turun kepada manusia biasa, disebut dengan istilah seper empatpuluh enam wahyu kenabian, atau mubasyirot.

2.       Mimpi yang baik. Yaitu mimpi yang menggembirakan dari Alloh, misalnya mimpi ketemu Nabi Muhammad SAW, bertemu para shohabat, para wali dan seterusnya.

3.       Mimpi simbolis. Yaitu mimpi yang berisi penjelasan atau cara untuk menyelesaikan masalah rumit yang tengah dihadapinya. Mimpinya kadang berupa gambaran atau simbol yang logis.

4.       Mimpi menakutkan. Maksud mimpi menakutkan disini adalah mimpi untuk mengingatkan akan bahaya yang mengancam atau suatu pengaruh yang mengganggu.

5.       Sedangkan mimpi dusta (ru’yah kadzibah) adalah mimpi yang kosong atau tidak bermakna, bisa jadi itu mimpi dari syetan atau dari lamunan dirinya sendiri. Mimpi ini biasanya sulit difahami oleh sipemimpinya sendiri, susah diingat secara sistematis, kacau balau, sulit dita’wilkan maknanya.

WAHYU KENABIAN

Mimpi yang baik itu satu bagian dari empat puluh enam bagian dari wahyu kenabian

Di dalam kitab Tarikhul Anbiya’ jilid 1, susunan almukarrom Bp.Kyai Moch.Muchtar Mu’thi, menyebutkan sebuah hadits yang menerangkan bahwa mimpi shodiq yang dialami orang mukmin adalah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian: Bersabda Rosulullah SAW: “Mimpi yang baik itu satu bagian dari empat puluh enam bagian dari wahyu kenabian”. (Keterangan dari Shohabat Abi Sa’id, diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dalam kitab Hadits Jami’us Shoghir/ bab huruf Ro’/ hal.165).

Rasulullah SAW bersabda: “Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang Mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian dari wahyu kenabian.” (Mutafaq ‘Alaih). Demikianlah penjelasan dari Rosulullah bahwa mimpi shodiq seorang muslim adalah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian.

Oleh sebab itu jika kita mengalami mimpi shodiq, kalau bisa janganlah mengabaikannya, karena mimpi yang demikian itu adalah berita dari Allah dan menduduki seperempat puluh enam dari wahyu kenabian. Untuk itu fahamilah dan waspadailah bagaimana ciri-ciri mimpi shodiq, yakni saat menjelang tidur gelombang jasmaniyah dan gelombang fikiran kita lepas, sekujur badan dan panca indera serta fikiran sudah tidak menerima gelombang sinar dari alam dunia atau alam syahadah, ruhani hening dan bening, maka di waktu tertidur itu ruhani dapat menangkap pantulan Nur dari alam ghoib atau Lauhil Mahfudh, kemudian pantulan Nur dari alam ghoib itu membentuk lintasan-lintasan berupa lambang-lambang yang tampak dalam mimpi. Lambang-lambang yang muncul dalam mimpi inilah yang disebut mimpi shodiq, didalamnya bisa berupa suatu berita dari Allah tentang sebuah penjelasan akan terjadinya hal- hal di masa mendatang, atau suatu berita dari Allah tentang buah dari apa yang telah dilakukannya pada masa lampau, atau kabar gembira dari Allah, atau peringatan dan teguran dari Allah, atau tentang pengalaman perjalanan ruhaniyah, atau tentang pemandangan alam akhirat. Inilah yang disebut dengan ru’yah shodiqoh. Jika muncul yang demikian itu maka bersyukurlah. Karena sepeninggal Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir maka wahyu kenabian yang diturunkan Allah kepada manusia sudah tutup, dan yang masih ada selanjutnya hingga sekarang  ialah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian yakni mimpi shodiq-nya seorang muslim, sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:

 ‘Aisyah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan tersisa setelahku dari ciri kenabian kecuali hanya kabar gembira.” Lalu para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kabar gembira tersebut?”. Beliau menjawab: “Mimpi shodiq yang dilihat seseorang dalam tidurnya atau tentang dirinya yang dimimpikan oleh orang lain.” (HR. Ahmad. Riwayat yang sama juga diriwayatkan oleh Bukhari dari sahabat Abu Hurairah).

Sedangkan terhadap mimpi yang terjadi akibat angan-angan fikiran diri sendiri atau akibat kejadian keseharian maka mimpi tersebut diabaikan saja tidak apa-apa karena mimpi semacam ini memang tidak mempunyai arti. Begitu juga mimpi ihtilam (mimpi orang dewasa yang mewajibkan mandi jinabat), mimpi pada saat fikiran kacau, atau mimpi tentang masa lalu, juga tidak mempunyai arti, maka pantas jika mimpi seperti ini diabaikan karena hanya merupakan ‘bunga tidur’ saja.

Tapi sayangnya, terhadap mimpi-mimpi yang merupakan berita dari Allah ataupun yang merupakan perlambang perjalanan ruhaniyah, tidak sedikit manusia mengabaikannya, sehingga sesuatu yang penting itu diabaikan begitu saja atau paling tidak dipendam dalam alam bawah sadar manusia tanpa kita pernah memahaminya. “Hallaah… cuman mimpi saja” mungkin begitulah sebagian kita bergumam.

 MIMPINYA PARA NABI

Tidak hanya manusia biasa, para Nabi pun juga mengalami mimpi. Bedanya, kalau mimpinya para Nabi adalah wahyu kenabian dari Allah Taala, sedangkan mimpi shodiq manusia yang bukan Nabi adalah seper empat puluh enam dari wahyu kenabian.

Adapun jika Allah Taala menurunkan wahyu kepada para Nabinya itu dengan banyak cara, antara lain: adakalanya cara isyaroh, adakalanya cara ghorizah, adakalanya cara ru’yah (mimpi), adakalanya cara taskhir, adakalanya cara langsung masuk ke dalam jiwa menjadi keyakinan tanpa huruf dan suara, adakalanya cara di balik tabir, adakalanya cara perantaraan Malaikat yang dapat diketahui bentuk Malaikatnya, dan lain-lain terserah kehendak Allah Ta’ala. Demikianlah yang telah diterangkan oleh Almukarrom Bapak Kyai Moch.Muchtar Mu’thi dalam pelajaran Tarikhul Anbiya’ jilid 1.

Mimpi yang dialami para Nabi sebagai wahyu kenabian pun adakalanya tidak seperti mimpi-nya manusia pada umumnya tetapi berupa ‘cahaya’, sebagaimana keterangan berikut ini: “Sayyidatina A’isyah RA mengatakan bahwa wahyu yang diturunkan pada masa-masa awal kepada Rosulullah SAW adalah mimpi yang baik, dan Rosulullah tidak memimpikannya kecuali seperti cahaya di waktu subuh”.

Ada banyak sekali kisah-kisah dalam al-Qur’an yang menceritakan tentang mimpinya para Nabi, diantaranya sebagai berikut: Ru’yah atau mimpi Nabi Ibrahim AS. Mimpi ini disebutkan dalam Surat Ash-Shoffat ayat 102-105.

Al-Qur’an juga dengan jelas menerangkan tentang ru’yah atau mimpi yang terjadi pada kisah Nabi Yusuf AS. Mimpi ini beda dengan apa yang dialami Nabiyullah Ibrahim AS, karena mimpi yang dialami Nabi Yusuf merupakan mimpi sebagai tanda-tanda turunnya kenabian kepada beliau: “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Surat Yusuf /  ayat 4). Dan ternyata mimpi Nabi Yusuf itu menjadi kenyataan, yaitu setelah beliau berkuasa di Mesir, saudara-saudara beliau dan orang tuanya datang berkunjung dan menghormatinya

Bahkan setelah diangkat menjadi Nabi, beliau Nabi Yusuf AS dianugerahi Allah Ta’ala memiliki spesialisasi kemampuan mentakwilkan arti mimpi: “Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu menjadi Nabi, dan diajarkannya kepadamu sebagian dari ta’bir-ta’bir mimpi dan disempurnakannya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub”. (Surat Yusuf / ayat 6).

Nabi Muhammad SAW juga pernah bermimpi ketika kota Mekkah masih dikuasai kaum musyrikin Quraisy, bahwa beliau mimpi pergi ke kota itu bersama kaum muslimin untuk melakukan umroh, thowaf, sa’i dan bercukur. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan benar adanya bahwa mimpi tu menjadi kenyataan yakni beberapa tahun kemudian beliau dan umat islam dapat menguasai kota Mekkah seperti dalam mimpinya, ini diterangkan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RosulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya yaitu bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Harom, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”. (Surat Al-Fath / ayat 27).

Tak hanya para Nabi, para shahabat juga mengalami mimpi yang akhirnya terbukti kebenarannya. Seperti mimpi Abu Bakar yang menaiki tangga bersama Rasulullah, tetapi mereka berselisih dua anak tangga. Dalam takwilnya, Abu Bakar menyatakan bahwa kematiannya akan datang dua tahun setelah Rasulullah, dan itu benar-benar terjadi.

Shahabat Bilal pernah bermimpi melafadzkan bacaan-bacaan adzan. Ketika melaporkannya kepada Rasulullah SAW, beliau mengatakan bahwa mimpinya adalah benar. Dan sejak saat itu bunyi bacaan yang dimimpikan shahabat Bilal ditetapkan oleh Rosulullah menjadi bacaan-bacaan adzan hingga sekarang.*

(SISIPAN) CARA MENDAPATKAN RU’YAH SHODIQOH

Ru’yah shodiqoh datangnya dari Alloh SWT, jika ingin mendapatkannya haruslah bisa menyesuaikan dengan ketentuan Alloh, diantaranya :

1.       Harus tekun ibadah, karena manusia memang diciptakan untuk ibadah.

2.       Harus banyak ingat pada Alloh (dzikir). Karena dengan banyak mengingat Alloh berarti banyak sadar akan Alloh, dan dengan senantiasa sadar akan Alloh, berarti semakin dekat kepada Alloh. Dengan semakin dekat kepada Alloh, maka lebih mungkin akan mendapat petunjuk dari Alloh.

3.       Senantiasa membersihkan hati, baik dari sifat buruk, maupun dari segala sesuatu lainnya Alloh. Kalau memungkinkan melaksanakan teori tasawuf Kho’, Kha’, Jim (Takholli, Tahalli dan Tajalli). Takholli adalah membersihkan hati dari semua sifat tercela, dari segala sesuatu lainnya Alloh. Tahalli, mengisi hati dengan sifat terpuji, dan dzikir kepada Alloh. Tajalli, hingga sampai bisa merasakan Alloh lebih jelas dari semuanya, atau merasakan kehadirannya Alloh. Dengan ini, tambah lebih mungkin untuk bisa mendapat petunjuk atau berita dari Alloh.

4.       Terhadap nafsu yang menguasai dirinya, setidaknya ditingkatkan sampai bisa mencapai nafsu Mutmainah (nafsu yang sudah tenang, tidak terpengaruh dengan dunia, bisa mendengarkan panggilannya Alloh). Sebagaimana dalam al-Qur’an diterangkan : “Wahai nafsu yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu”. Dan untuk bisa mencapai nafsu Mutmainah, berarti harus bisa melewati nafsu amaroh, lauwamah dan mulhimah. Setelah itu baru bisa mencapai nafsu Mutmainah.

5.       Sebelum tidur, usahakan wudlu terlebih dahulu, lalu baca doa sebelum tidur dan baca doa-doa. Kemudian perbanyak ingat pada Alloh, mengistirahatkan ingatan atau perhatian terhadap dunia. Syukur-syukur kalau bisa ingat terus pada Alloh selama tidur (hatinya tidak tidur walau fisiknya tidur).

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment