Merah Putih Juga Bendera Rasulullah SAW

By Admin 20 Mei 2016, 21:54:57 WIB Berita Pusat
Merah Putih Juga Bendera Rasulullah SAW

Keterangan Gambar : Jamiatul Mudzakkirin Magelang


Merah putih memiliki makna yang luas dan dalam. Bahkan Sang Mursyid menyebut bendera Nabi Muhammad juga Sang merah dan putih.

Mendung diangkasa seperti hendak jatuh, pagi itu petugas penyambutan rombongan agung kunjungan kerja Sang Mursyid Shiddiqiyyah segera menyiapkan payung, tetapi mendung tetap di atas hanya rintik-rintik lembut menyambut. Rabu 26 R. Akhir 1437 (03/02/2016) lalu di Jaami’atul Mudzakkirin Yarju Rohmatulloh Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Dalam rangkaian kunjungan kerja Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba beserta keluarga, kholifathus Shiddiqiyyah dan jajaran tinggi pengurus organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah berangkat pada Selasa 22 R. Akhir 1437 (02/02/2016) dan kembali ke pusat Jombang pada Sabtu 26 R. Akhir 1437 (06/02/2016).

Tampak mendampingi Almukarromah Nyai Shofwatul Ummah, Almukarromah Nyai Endang Yuniati, Kholifah Tasrichul Adib Aziz, Kholifah Munirul Muchtar, Kholifah M. Chamim, Kholifah Abdul Malik, Kholifah Syarief Yusuf dan Kholifah… Jajaran pengurus organisasi tingkat pusat Ir. Edi Setiawan, Ummul Choironi, Ir. Setyo Purnomo, Jolik (DPP Orshid), Achmad Fathoni, Dhiya’ul Muttaqin (DPP Opshid), Ir. Ramu Surahman (YPS), Drs. Fathurrohman (Dhibra Pusat), Dra. Fatwahariwati (JKPHS Pusat) beserta pengurus DPW dan DPD Jawa Tengah.

Baca Lainnya :

Sesampainya di lokasi, Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba langsung naik ke gedung yang merupakan bangunan paling mulia bagi Shiddiqiyyah ini. Masuk dari tangga sebelah utara lalu belok ke kiri dan masuk ke lantai dua di tangga sebelah timur. Sebelum masuk ke dalam gedung sempat berhenti sejenak. “Beliau menunjuk lokasi tanah untuk perluasan Jaami’atul,” terang Kholifah Chamim kepada Alkautsar di lokasi pembangunan.

Pada kunjungan kali ini Sang Mursyid tidak memberikan mauidhotul hasanah. Saat singgah beberapa lama di dalam gedung kemudian kholifah Munirul Muchtar menyampaikan beberapa hal terkait perkembangan pembangunan. “Bapak Kholifah Munirul Muchtar menyampaikan contoh dan mohon petunjuk soal penambahan (ornament) plavon, pagar rolling, tangga (pegangan),” kata Wit tim pembangunan. Kemudian kunjungan kerja beliau dilanjutkan di Purwokerto.

Keberadaan Gedung Jaami’atul Mudzakkirin Yarju Rohmatulloh dipinggar jalur utama Borobudur jalan Mugkid, Magelang yang tampak indah dan menonjol ini bagi Kholifah Chamim termasuk jawaban dengan fakta. Terkait putusan Kongres Alim Ulama’ Ahli Thoriqoh Indonesia (Jatmi) 23 Oktober 1957 di Pesantren Tegal Rejo Magelang. 43 thoriqoh dianggap muktabarok, Shiddiqiyyah ghoiru muktabarok. “Ini fakta bicara. Dahulu ditempat ini organisasi Jamiyyah Ahli Thoriqoh memutuskan thoriqoh Shiddiqiyyah tidak muktabarok,” tegasnya.

Jaami’atul Mudzakkirin Purwokerto

Kunjugan kerja Sang Mursyid tiba di Jaami’atul Mudzakkirin Purwokerto sekitar pukul 3 sore. Ketua Panitia pembangunan, Annas langsung menyambut dan mendampingi rombongan. Ditempat inilah Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba memberikan mauidhotul hasanah. Sang Mursyid menyampaikan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan juga kepada Sang Merah Putih yang di belakangya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai pembuka, Sang Mursyid mengingatkan thoriqoh Shiddiqiyyah ini mempunyai pintu gerbang. Setiap orang yang akan masuk thoriqoh Shiddiqiyyah harus melalui pintu gerbang yaitu 8 kesanggupan. Nomer tiga dari delapan kesanggupan itu adalah sanggup bakti kepada kedua orang tua. Sang Mursyid mengingatkan bahwa manusia datang ke dunia ini melalui pintu gerbang kedua orang tua.

Seluruh manusia sebelum lahir ke dunia berada dalam kandungan orang tua (ibu) umumnya selama sembilan bulan. Selama dalam kandungan itu makan dari sari-sari darah sang ibu yang berwarna merah. Dan setelah lahir, mengkonsumsi air susu ibu yang warnanya putih. Jadilah merah putih. Bayi yang juga lahir melalui perjuangan ibu yang tumpah darah merah dan putih.

Begitupula dalam sejarah Rasulullah, ketika perang khandaq di Madinah. Waktu itu sebuah batu yang besar dipecah oleh Rasululloh dengan membaca Bismillahi Allohu Akbar dan pecah sepertiga lalu keluar sinar merah. Kemudian dipukul lagi keluar sinar putih. “Makanya bendera nabi kita Muhammad adalah merah putih,” tegas Sang Mursyid.

Almukarrom Syech Muchtarulloh Almujtaba kemudian mengingatkan agar kita bersyukur kepada Alloh Ta’ala bahwa bendera negara kita Indonesia juga merah putih, Sang Merah Putih. “ Kita wajib bersyukur negara kita menggunakan benderanya Rasululloh. Kita tidak perlu khawatir kalau ada pendapat yang mengatakan menghormati bendera itu syirik, karena mereka tidak mengenal nilai-nilai yang terkandung didalamnya”.

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment