Sorong Kota di Tanah Papua Rasa Jawa

By Admin 06 Nov 2020, 14:48:01 WIB Berita Daerah
Sorong Kota di Tanah Papua Rasa Jawa

Cintaku Negeriku adalah semboyan Kota Sorong yang selaras dengan Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia. Sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang diprakarsai oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.

 

DOMINE Eduard Osok adalah nama seorang tokoh Papua yang diabadikan menjadi nama sebuah bandara di kota Sorong. Meski bukan bandara internasional tetapi bandara ini cukup besar dengan gedung 2 lantai yang berdiri megah diatasnya. Disambut dengan iklim cuaca tropis khas Papua yang suhu rata rata 36°c, saya menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di tanah Papua .

Baca Lainnya :

   Bertolak dari Surabaya menuju Sorong dengan pesawat Batik Air. Kami rombongan berlima dari Demak, Kudus, Jombang bertujuan bekerja di PT. Misool Eco Resort, sebuah konsorsium asing dengan Pemerintah Daerah setempat yang mengelola pariwisata resort dan pulau-pulau di Kabupaten Raja Ampat. Setelah melalui pemeriksaan X-Ray, kami keluar bandara, di pintu keluar banyak orang menawarkan jasa ojek dan taxi sebagai alat transportasi.

   Meski sudah tiba diatas tanah Papua, gambaran yang ada dibenak saya saat di tanah Jawa tentang Papua belum terasa. Karena komunitas yang ada di bandara masih didominasi orang-orang Jawa dan selebihnya orang-orang Bugis yang fisiknya lebih mirip orang Jawa daripada orang Papua. Memang ada juga orang-orang Papua dalam jumlah yang tidak sedikit tetapi itu belum mewakili kalau mereka adalah tuan rumah .

   Seorang dari kami berlima yang sudah pernah bekerja di Sorong mengajak kami untuk naik taxi di luar bandara. Karena taxi bandara lebih mahal tarifnya. Kami berjalan kaki keluar ke arah jalan raya. Setibanya di jalan raya, teman kami tadi memanggil angkot yang lewat. Yang ternyata jika di Jawa kami menyebutnya angkot, sedangkan di Kota Sorong mereka menyebutnya taxi. Saya sendiri hanya bisa tersenyum mendengarnya.

   Dengan logat bicara khas Papua, sopir menanyakan tujuan kami. Sepintas fisiknya terlihat orang Jawa tetapi tampilan dengan rambut panjang bergelombang dicat warna pirang, tampilan khas orang yang tinggal di Papua, baik orang perantauan maupun orang asli Papua modern .

   Tawar menawar harga disepakati. Kami menuju distrik Aimas ibukota Kabupaten Sorong yang berjarak +_ 30 km dari kota Sorong dengan waktu tempuh +_ 0,5 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan terlihat lalu lalang hilir mudik orang-orang yang sedang beraktifitas. Sebagian besar adalah orang-orang perantauan dari pulau Jawa atau mereka anak-anak keturunan orang Jawa yang mengikuti program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah pusat di era tahun 80’an. Ruko-ruko berderet di kanan kiri, banyak warung makan yang menawarkan menu masakan dari Jawa, jelas itu semua menggambarkan betapa kentalnya suasana Jawa di kota Sorong.

   Memasuki wilayah distrik Aimas, perjalanan disambut tanjakan bukit Pawbili. Dan di sebelah kiri bukit Pawbili dari arah kota Sorong terdapat SPBU dan taxi berhenti sejenak untuk mengisi bbm. Lagi-lagi suasana di tanah Jawa begitu terasa di SPBU, karena petugas dan antrian pembeli bbm didominasi orang-orang Jawa. Hanya tampilan yang membedakan, dengan dandanan rambut dicat pirang khas dandanan masyarakat Papua modern.

   Usai pengisian bbm kami melanjutkan perjalanan dengan selepas bukit Pawbili. Melewati turunan tajam, taxi langsung memasuki wilayah distrik Aimas.

Distrik Aimas adalah ibukota Kabupaten Sorong. Dahulu lokasi ini adalah hutan belantara dan sekarang telah menjelma menjadi ibukota Kabupaten Sorong yang indah dan nyaman karena hasil dari program transmigrasi. Tidak mengherankan apabila suasana distrik Aimas sangat terasa di Jawa karena di distrik Aimas tumplek blek orang Jawa dan keturunannya sebagai mayoritas penduduk di distrik Aimas.

   Tiba di sebuah rumah yang terletak di Cendrawasih Green Park Aimas I, kami disambut tuan rumah yaitu Mochammad seorang kader Thoriqoh Shiddiqiyyah yang berasal dari Demak Jawa Tengah yang sudah puluhan tahun merantau di Papua. Sambil melepas lelah kami disambut dengan suka cita. Beliau bercerita kalau saat ini sedang mempersiapkan penyambutan kunjungan rombongan dari Jombang: Kholifah Tasrichul Adib Azis, Ketua Umum DPP ORSHID Ris Suyadi, Biro Kemakmuran Danudi dan Bambang Budiarso yang diberi amanah oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah untuk tugas berkunjung ke Fakfak dan sekitarnya termasuk Sorong .

Ini adalah suatu hal yang tidak terduga serta tidak ada dalam pikiran dan benak kami sewaktu akan berangkat ke Papua dari tanah Jawa. Kota Sorong dan distrik Aimas Kabupaten Sorong adalah wilayah provinsi Papua Barat. Dengan luas wilayah 99,071km2, jumlah penduduk 1,36jt (data sensus 2015) populasi penduduk asli 58%, pendatang 42%, muslim 31%, lainnya non muslim 69%. Provinsi ini mempunyai potensi yang luar biasa, baik itu pertanian, perikanan, pertambangan, hasil hutan, maupun pariwisata. Satu satunya industri adalah industri tenun ikat kain rumor yang dihasilkan di Kabupaten Sorong Timur, sirup pala harum, wisata alam Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Provinsi adalah provinsi dengan otonomi khusus .

   Beragam potensi  yang baik adalah prospek untuk masa depan. Apalagi semboyan CINTAKU NEGERIKU, kota Sorong yang selaras dengan Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia. Semoga keberadaan kami bisa bermanfaat dan berpartisipasi sehingga pohon thoyyibah dapat tumbuh dan berkembang dengan bijaksana di tanah Papua.*

 

 

Artikel kiriman dari Bagus Indra

Sekretaris Wilayah DPW ORSHID Papua Barat

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment