Beranda Berita Pusat Hari Rumi se-Dunia, Inilah Bait Terakhir Karya Sang Sufi Pujangga

Hari Rumi se-Dunia, Inilah Bait Terakhir Karya Sang Sufi Pujangga

majalahalkautsar.com – Tepat pada hari ini, 30 September, Syech Maulana Jalaluddin Rumi dilahirkan di Balkh (Afganistan) pada tahun 604 H/ 1207 M.

Jalaluddin Rumi ulama’ tashawuf yang termasyhur di dunia. Tokoh sufi yang mencuri perhatian umat manusia lintas generasi melalui karya-karyanya.

Iklan Majalah Al Kautsar

Karya dan ajaran sufistiknya terangkum dalam puisi-puisi dengan bahasa penuh cinta dan romantisme.

Pada malam terakhir sebelum Rumi menghembuskan nafas terakhirnya, Rumi mengalami demam cukup parah. Namun, tak sedikit  terlihat di wajahnya ada tanda-tanda sakaratul maut.

Bahkan, Rumi masih sempat bersenandung lagu-lagu ghazal dan menampakkan kebahagiaan di wajahnya. la pun melarang sahabatnya untuk bersedih atas kepergiannya.

Di malam sebelumnya aku bermimpi melihat seorang Syekh di pelataran rindu, ia menudingkan tangannya padaku dan berkata, “Bersiap-siaplah untuk bertemu denganku!” demikian guratan pena Jalaluddin Rumi.

Konon, syair di atas merupakan bait terakhir Sang Rumi. Dimakamkan di Kota Konya, Turki. Pada Ahad, 05 Jumadil Akhir 672 H/ 1273 M. 

Hari lahirnya ditetapkan sebagai Hari Rumi se-Dunia oleh UNESCO. Rumi dinilai menyiarkan toleransi, akses ke pengetahuan melalui cinta.

Hubungan mistisnya dalam Islam menghasilkan karya besar yang melampaui batas negaranya. Menandai budaya dan ketaatan Islam.

Rumi mengajarkan doktrin toleransi tak terbatas, sikap positif, kebaikan, kedermawanan dan kesadaran melalui cinta. Bagi Rumi dan murid-muridnya, semua agama adalah benar. Pengajarannya yang penuh toleransi dan perdamaian berhasil menarik semua kalangan dari berbagai sekte dan aliran. 

Beberapa kalangan menyebut ajaran-ajaran Rumi itu sebagai “agama cinta” atau mahdzab cinta dalam tradisi mistisisme Islam.

Hal ini juga disinggung oleh sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syech Muchtarulloh Al Mujtabaa. Beliau menjelaskan bahwa penetapan hari Rumi Seduni ini merupakan salah satu tanda kebangkitan tashawuf dunia. 

“Tanda pertama bahwa ilmu tashawuf dunia akan bangkit lagi, kelahirannya Syech Maulana Jalaluddin Rumi tanggal 6 Robi’ul Awwal tahun 604 Hijriyyah atau tanggal  Masehi ditetapkan oleh Organisasi Dunia namanya UNESCO menjadi hari Dunia,” tutur sang Mursyid dalam pengajian 1 Muharrom 1444 H.

Dikisahkan bahwa  sang Mursyid pernah mengunjungi Turki pada 2005 silam. Tepatnya di Kota Konya menziarahi makam Sang Sufi. Kunjungan beliau pertama ini cukup mengagetkan beliau. Dimana sang Mursyid melihat banyak orang dari lintas agama mengunjungi makam penyair legendaris ini.

Mengurangi rasa penasaran, beliau kemudian bertanya kepada salah satu pengunjung yang diketahui beragama Hindu. “Apa Tuan tidak tahu ini orang Islam, faham tashawuf?” tanya beliau. 

“Saya tahu, saya mengetahui Jalaluddin Rumi ini orang Islam. Dan tokoh tashawuf, tapi ini sudah milik dunia. Jangan diklaim milik orang Islam saja. Walaupun saya orang Hindhu, datang kesini untuk menghormati, ini milik dunia,” jawabnya dengan tegas.*zm 

foto: newlebanon.info

Berita sebelumnyaSerentak Peletakan Batu Pertama RSLHS Pusat di 3 Titik
Berita selanjutnyaIni Kesaksian Ahli Psikologi Forensik Terkait Persidangan Mas Bechi.