Almukarrom Bapak Kyai Moch Muchtar Mu’thi sang Pemrakarsa Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan mengingatkan kepada semuanya warga negara untuk kembali kepada jati diri bangsa Indonesia, nampaknya ada sesuatu yang membayakan pada negeri dan bangsa ini. Ajakan ini disampaikan dalam pitutur luhur tasyakuran Hari Pahlawan di Balai Pemuda Surabaya, Rabu 09 November 2022.
Menurut Sang Mursyid hal ini adalah bahaya terbesar bagi bangsa dan NKRI, bukan besar tapi terbesar.
“Bahaya terbesar yang mengancam Indonesia bukanlah bahaya gunung meletus, tanah longsor, stunami akan tetapi bahaya terbesar adalah lunturnya jati diri Bangsa Indonesia. Tanpa jatidiri bangsa maka Indonesia hanya akan tinggal nama,” tutur sang Pemrakarsa PCTA Indonesia.
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa, jati diri itu ghoib, tidak bisa ditangkap oleh panca Indra dhohir, tetapi bisa dilihat dari penampakan ya dalam berbagai macam.
“Sumpah Pemuda juga penampakan jati diri Bangsa Indonesia,Lagu Indonesia Raya adalah penampakan jati diri Bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan rakyat Indonesia, Pembukaan UUD 45 juga penampakan jati diri Bangsa Indonesia. Berdirinya NKRI juga penampakan jati diri Bangsa Indonesia, Hari Pahlawan tanggal 10 November juga penampakan jatidiri bnagsa Indonesia,” urai sang Mursyid.
Ditambahkan bahwa di dunia ini satu-satunya kota Pahlawan hanya ada di Surabaya.
Untuk itu kembalilah kepada jati diri bangsa Indonesia, kembalilah kepada jati diri bangsa Indonesia, kembalilah kepada jati diri bangsa Indonesia,” pungkas sang Mursyid diulang hingga beberapa kali.
Ketua Departemen Pendidikan DPP PCTA Indonesia mengatakan menurutnya Indonesia memang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Kalau menurut saya haqul yakin apa yang didawuhkan Sang Pemrakarsa, bahwa Indonesia ini bisa dikatakan benar-benar dalam keadaan gawat darurat. Krisis moral, krisis mental semua karena menipisnya jatidiri bangsa,” aku Kushartono.
“Dan lebih mengerikan lagi adalah, sudah dalam keadaan krisis jati diri bangsa tapi tidak merasa krisis jatidiri bangsa. Ini mengerikan. Untuk itulah beliau terus mengajak dan mengigatkan,” ujarnya.*






















