Dermawan dekat pada Alloh, Medit Jauh dari Alloh

Sifat dermawan boleh dibilang
adalah salah satu ciri warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Selain sifat kasih sayang,
rohman rohim dan sopan santun.

 

DERMAWAN, sebenarnya ini adalah sifat yang
begitu melekat dalam kehidupan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Dimana Thoriqoh
Shiddiqiyyah mempunyai ciri khas 3S, dan salah satunya adalah Shodaqoh.
Shodaqoh tentu sangat erat kaitannya dengan dermawan, karena hanya orang
dermawanlah yang akan gemar bershodaqoh.

Sifat dermawan ini dijelaskan oleh Sang Mursyid Thoriqoh
Shiddiqiyyah Syech Muchtarulloh Al – Mujtabaa dalam acara Kunjungan Kerja dan
Ibadah 3S di daerah tapal kuda, tepatnya di Kabupaten Probolinggo, Senin 19 J. Awwal
1439 H (05/02/18 M).

Dalam pitutur luhurnya, Beliau menekankan akan
pentingnya sifat dermawan, salah satu sifat yang sangat melekat pada para ahli
shodaqoh. “Rosululloh bersabda Qoola
Rosululloh SAW: As shodaqotu syayi’un ‘ajibun. As shodaqotu syai’un ‘ajibun. As
shodaqotu syai’un ‘ajibun
, Shodaqoh itu sesuatu yang menakjubkan. Shodaqoh
itu sesuatu yang ajaib. Shodaqoh itu sesuatu yang ajaib. Itu disebut oleh Nabi
sampai 3 kali.” Terang Sang Mursyid.

“Mengapa sampai disebut ajaib? shodaqoh dari
kata-kata shiddiq, shiddiq itu
artinya benar. Untuk merealisasi sifat dermawan, sifat sakhiyyun dinyatakan melalui shodaqoh dengan ikhlas. Jadi shodaqoh
itu pernyataan, perwujudan, pengejawantahan dari sifat sakhiyyun.” Ungkap Syech Muchtarulloh.

Seperti yang disebutkan dalam salah satu hadist, Assakhiyyu qoriibun minalloh qoriibu minannas qoriibun minal jannati ba’iidun
minannar wal bakhilu ba’iidun minalloh ba’iidun minannas ba’iidun minal jannati
qoribun minannar waljahilus shakhiyyu ahabbu ilallohi minal ‘aabidil bakhili
.

Hadist tersebut dijelaskan lebih mendalam oleh Sang
Mursyid. Sifat dermawan itu ajaibnya pertama, qoribun minalloh mempunyai daya mendekatkan manusia kepada Alloh
itu keajaiban pertama. Dua, Qoriibun
minannas
mempunyai daya mendekatkan sesama manusia. Tiga, qoriibun minal jannah shodaqoh itu
mempunyai daya mendekatkan manusia kepada surga. Keempat, shodaqoh itu
fungsinya menjauhkan manusia dari neraka. “Begitu hebatnya,” ungkap Beliau Sang
Mursyid.

Sebaliknya sifat medit, kikir, cetil,
pait jauh dari Alloh, jauh dari manusia, jauh dari surga dekat kepada
neraka. Malah dalam Hadist Nabi, orang bodoh tapi dermawan lebih dicintai Alloh
daripada orang yang ahli ibadah tapi pelit,” lanjut Sang Mursyid dengan
tersenyum. Begitu hebatnya masalah shodaqoh hingga orang yang ahli ibadah saja
jika enggan bersodaqoh atau pelit, dia tidak akan bisa dekat dan dicintai oleh
Alloh Ta’ala.

Lebih lanjut Sang Mursyid, menjelaskan bahwa
shodaqoh itu perwujudan dari sakhiyyun
dan sakhiyyun itu diantara khuluqulloh, dalam Hadits Nabi: Assakhoou khuluqullohil a’dhom. “Coba kita
ini punya apa seandainya Alloh tidak mempunyai sifat sakhiyyun apa kita ada?,” tegas Sang Mursyid bernada Tanya. Kita
tidak mempunyai apa – apa, semuanya adalah nikmat pemberian dari Alloh Ta’ala
yang tidak akan bisa kita sebutkan dan kita hitung.

Sang Mursyid pun mengungkapkan rasa syukur ketika
mengetahui bahwa warga Thoriqoh Shiddiqiyyah ini banyak yang dermawan dan gemar
shodaqoh. “Alhamdulillah warga
Shiddiqiyyah ini dengan shodaqoh semangat, sampai shodaqoh nasional itu sangat
semangat. Yang mengeluarkan uang senang, yang menerima juga senang. Ini
hebatnya ciri khasnya warga Shiddiqiyyah itu,” terang Sang Guru sambil
tersenyum lagi.

Sampai ada ungkapan dari timur tengah, Ukhruj maa fil jaddu thomatul ghoib.
keluarkan sesuatu dari sakumu maka nanti akan keluar sesuatu yang ghaib.
“Keluar 100.000 teko 200.000 tapi ikhlas, kalau shodaqohnya tidak ihklas ya
lebih baik tidak usah shodaqoh,” ingat Sang Mursyid.

Sementara bakhil
atau pelit menurut Sang Mursyid adalah sebuah realisasi melekatnya hati pada dunia.
Dan melekatnya hati kepada harta dan kebendaan. Dan itu nanti yang akan menjadi
siksa saat sakaratul maut.

Maka dari itu Sang Mursyid kembali mengungkapkan
pentingnya shodaqoh untuk pembangunan gedung Jaami’atul Mudzakkirin. Gedung
yang nilainya paling tinggi. Bukan nilai nominalnya tapi nilai kegunaannya. “Di
Shiddiqiyyah bangunan yang termulya ‘indalloh
Jaamia’tul Mudzakkirin karena Jaami’atul Mudzakkirin ini khusus untuk
mengajarkan Laa ilaaha illallo,” tutup
Sang Mursyid mengakhiri pitutur luhurnya.*

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

English EN Indonesian ID
Scroll to Top